Pada tahun 2002, Mohammad Hatta atau Bung Hatta mencapai usia genap 100 tahun. Pemimpin bangsa yang meninggal dunia tahun 1980 itu merupakan pendamping setia Bung Karno dan bersama dikenal sebagai “Dwi-Tunggal”. Dalam buku yang terbit pada tahun 2002 itu berjudul, “Bung Hatta, Bapak Kedaulatan Rakyat,” Sri Edi-Swasono, suami putri pertama Bung Hatta, Meutia Hatta, menghimpun tulisan dari 60 tokoh bangsa, baik yang masih ada atau sudah tiada, tentang Bung Hatta. Di antara para penulis itu adalah Ruslan Abdulgani, Mubiyarto, Emil Salim, Ali Sadikin, Taufik Abdullah, Adi Sasono, Jakob Oetama dan Sri Edi-Swasono sendiri. “Dalam buku ini terbaca ungkapan-ungkapan, Bung Hatta adalah ‘Bapak Ekonomi Rakyat’, ‘Bapak Kedaulatan Rakyat’, ‘Bapak Bangsa’, ‘Bapak Demokrasi’, ‘Bapak Hak Azasi’, ‘Father of the Founding Fathers’, dan seterusnya,” ungkap Sri Edi-Swasono, yang bertindak sebagai editor buku itu, dalam pengantarnya. Bung Hatta juga diingat dalam sejarah sebagai “Bapak Koperasi”.

Apapun sebutan orang bagi Bung Hatta, semua sependapat bahwa sosok Bung Hatta adalah orang yang sangat loyal dan jujur, sampai setelah pension tidak mampu membayar tagihan air PAM, listrik, gas dan Ireda, dan menurut cerita Ali Sadikin, kemudian dibantu pembayarannya oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Bung Hatta juga terkenal disiplin dan selalu tepat waktu kalau menghadiri suatu acara dan iapun menghargai pendapat orang lain. Sementara dalam menjalankan kebijakan ekonomi, Bung Hatta juga mengutamakan kepentingan rakyat. Seorang ikon dalam sejarah bangsa dan negara.

Adi Sasono, mantan Menteri Koperasi dan UKM selaku Ketua Panitia Pelaksana Satu Abad Bung Hatta, meminta Fortune untuk mengembangkan dan melaksanakan program peringatan Satu Abad Bung Karno. Fortune menyambut baik — sekalipun disampaikan juga bahwa mereka tidak punya dana untuk itu. Dalam mengembangkan program SABH ini, Tim Fortune di bawah pimpinan langsung Indra Abidin mempelajari ciri-ciri pribadi Bung Hatta untuk diangkat dalam program itu. ”Dari penelahaan itu, Tim Fortune memposisikan ciri-ciri pribadi Bung Hatta sebagai orang yang sopan dan santun, jujur dan disiplin dan berpikir secara ekonomis,” tutur Daradjat Natanagara, yang waktu itu memimpin Divisi Advocacy, Partnership Building dan Social Marketing atau APSOM. Maka lahirlah slogan, “Santun, Jujur, Hemat” sebagai personifikasi Bung Hatta.

Program Satu Abad Bung Hatta yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh Fortune bertujuan untuk menjadikan Bung Hatta sebagai contoh bagi para penyelenggara negara dan masyarakat umum dalam memimpin bangsa. Karenanya, agenda program sangat beraneka ragam, ada iklan layanan masyarakat, filler untuk TV, media komunikasi pendukung sampai ke seminar dan talk show serta penerbitan dan penjualan koin emas SABH oleh perusahaan koin komemorasi Goldquest — seluruhnya dirancang 22 macam program. Yang terakhir ini, disamping dilakukan untuk melestarikan peringatan SABH ini, juga dimaksudkan untuk menghimpun dana

Diantara media hasil kreasi Tim Fortune yang paling menarik adalah filler 60 detik yang menampilkan berbagai tokoh, diantaranya Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarno, Abdurrachman Wahid, Emil Salim, Magnus Suseno, Susi Susanti, Titiek Puspa dan keluarga Bung Hatta sendiri secara bergantian menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. ”Pembuatan filler ini lahir dari keinginan punya jingle yang dinyanyikan semua orang seperti lagu Michal Jackson, ’Heal the World’,” cerita Aris Boediharjo yang waktu itu menjabat Deputy Director APSOM. Setelah bicara dengan Jaya Suprana, Direktur Utama Jamu Cap Jago yang suka main piano itu dan keluarga Bung Hatta, diketahui bahwa Bung Hatta paling suka lagu Indonesia Pusaka. Maka dengan dukungan mitra-mitra, khususnya rumah produksi Jatayu yang menyediakan dana, tenaga dan waktu, serta para tokoh politik dan agama serta artis peserta, dibuatlah filler yang disiarkan di sejumlah stasiun televisi. Kalau masih ada, Bung Hatta pasti senang.

Mungkin yang sama bobotnya adalah seminar dan talk show. Fortune sendiri menyelenggarakan sekitar 15 kali seminar (dari seluruhnya sekitar 50 yang diselenggarakan di seluruh Indonesia) yang mencakup berbagai topik dan pembicara. Untuk talk show di TV dan radio, Fortune menyediakan materi untuk stasiun televisi dan radio dan televisi yang menyelenggarakannya. “Apabila ditelaah secara mendalam apa yang disampaikan baik oleh pembicara dan peserta, adalah harapan adanya suatu gerakan politik yang santun, jujur dan hemat,” kata Adiwidjaja Astrianto, Account Executive pada Divisi APSOM waktu itu.

Acara Puncaknya Satu Abad Bung Hatta diselenggarakan di halaman belakang Gedung Perpustakaan Nasional di Jalan Gajah Mada. Acara ini dihadiri oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dan para Menteri Kabinet Gotong Royong, tokoh-tokoh politik dan masyarakat dan banyak undangan lainnya dari berbagai kalangan. Acara puncak itu ditandai oleh sambutan Presiden Megawati dan berbagai pertunjukkan yang memukau termasuk repertoir piano dan lagu oleh Jaya Suprana dan Titiek Puspa. Suatu penghargaan besar kepada seorang tokoh bangsa yang tak akan terlupakan sepanjang sejarah.

Fortune berhasil melaksanakan hampir seluruh mata acara yang direncanakan untuk memperingati Satu Abad Bung Hatta. Karena tiadanya dana dari panitia penyelenggara peringatan SABH, Fortune harus mencari mitra-mitra pendukung dari kalangan BUMN dan perusahaan swasta. Fortune berhasil memperoleh dukungan banyak pihak, namun dukungan itu bersama dengan hasil penjualan koin SABH ternyata tidak cukup menutup seluruh biaya, dan Fortune merugi ratusan juta Rupiah. Tapi bagi Fortune, memperingati satu abad seorang tokoh nasional yang membawa bangsa menjadi merdeka bukan soal untung-rugi. Itu satu keharusan.