Pada tahun 1970, jumlah penduduk Indonesia menurut Sensus Penduduk yang diselenggarakan Biro Pusat Statistik adalah sebesar 119,208,229; pada tahun 1980, angka itu naik menjadi 147.490.298, dengan kenaikan rata-rata 2,34% (“dji sam soe”) per tahun. Kenaikan jumlah penduduk itu tentu menjadi beban pada pertumbuhan ekonomi negara. Untuk mengurangi beban itu dan mencapai tingkat kesejahteraan yang memadai, pemerintah menjalankan berbagai program sosial, di antaranya Keluarga Berencana.

Program Keluarga Berencana diluncurkan pada awal tahun 1970an untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk. Pada waktu itu, sudah ada banyak cara untuk membatasi kelahiran termasuk pil, suntikan dan susuk. Dan sebetulnya ada juga cara yang sudah lama digunakan di seantro dunia, yaitu kondom. Tetapi penggunaan kondom sebagai cara membatasi kelahiran mendapatkan resistensi dari kalangan pemuka agama, termasuk Majelis Ulama Indonesia. Tetapi berkat kelihaian Kepala BKKBN, DR. Haryono Suyono, dalam melakukan advokasi, akhirnya Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa yang membolehkan penggunaan kondom untuk kepentingan keluarga berencana.

Tapi ada kendala lain, yaitu masih sedikit orang yang menggunakan kondom, dan ada semacam taboo di kalangan pria untuk membeli kondom secara terang-terangan. Akhirnya, BKKBN dengan bantuan Fortune mengembangkan dan mempromosikan ‘Kondom 25’. Penggunaan merk Kondom 25 memang sengaja dilakukan agar orang mengenalinya sebagai alat kontrasepsi dan tidak perlu malu-malu membelinya karena cukup memberi isyarat dengan tangan, yaitu dua jari ditambah lima jari atau 2-5. Kampanye Kondom 25 yang dilaksanakan merupakan kisah sukses pertama Fortune dalam melaksanakan kampanye dengan pendekatan social marketing atau pemasaran sosial, dimana prinsip-prinsip dan teknik pemasaran komersial diterapkan untuk mempromosikan masalah dan program sosial. Fortune sungguh mengukir sejarah.