Di masa krisis ini, Fortune bersama Institut Teknologi Komunikasi Pemasaran (ITKP) mengambil prakarsa menghimpun berbagai kampanye untuk membantu masyarakat bangkit kembali di bawah satu tema payung. Prakarsa itu didasarkan pada pemikiran bahwa sebelum 1997, berbagai program social marketing berlangsung tanpa ada benang merah antara satu dan lainnya karena tidak ada tema payung. Karena itu, persepsi citra masing-masing kampanye tidak sinkron atau akumulatif dan dampak dari penanaman citra/merek atau brand building masing-masing kampanye lemah. Tema besar tersebut diharapkan menjadi pemersatu seluruh program social marketing pemerintah guna membangun akumulasi dampak citra, opini dan persepsi, termasuk dengan pesan perilaku dan sikap pandang. Tema besar itu menjadi benang merah antara seluruh program dan menciptakan keterpaduan pesan dan kesan. Tema besar itu diberi nama “Indonesia Bangkit”.

 “Kami bawa gagasan ini ke Prof. DR. Haryono Suyono (Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat waktu itu),“ kisah Indra Abidin, Presiden Direktur Fortune Indonesia, ”dan nampaknya ia memiliki pikiran serupa dan mempersilahkan kami mengembangkannya”. Dengan tema besar Indonesia Bangkit ini, seluruh materi kampanye menggunakan tema baku, dengan tekanan pada membangun semangat dan kepercayaan pada kekuatan bangsa sendiri.

Indonesia Bangkit mempersatukan berbagai program pemerintah dan badan internasional, termasuk antara lain Program Keluarga Sejahtera (Prokesra) dari BKKBN, Kesetiakawanan Sosial dari Departemen Sosial, Kesehatan Gizi Keluarga dari Departemen Kesehatan dan Garam Yodium dari UNICEF. Fortune sendiri mengambil prakarsa melakukan kampanye di bawah tema Indonesia Bangkit untuk mempromosikan produk dalam negeri yang diberi nama Prodina atau Produksi Indonesia.

Prodina

Promosi produksi Indonesia telah cukup lama dilakukan oleh Pemerintah, dan pada 1985 telah dilangsungkan Pameran Produksi Indonesia di Jakarta. Tetapi tujuannya lebih untuk meningkatkan ekspor dan modal investasi. Sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi pasca-Krismon dan dibawah tema besar Indonesia Bangkit itu, Fortune memprakarsai dan melaksanakan kampanye untuk meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri dan mengurangi belanja negara untuk barang impor serta memperkuat industri dalam negeri Indonesia.

Sampai masa krisis itu, konsumen Indonesia masih lebih suka menggunakan produk buatan luar negeri karena dianggap lebih berkualitas dari produk hasil bangsa sendiri. Tetapi konsumen tidak tahu bahwa ada sejumlah produk yang digunakan di dunia yang merupakan hasil produksi Indonesia. Fortune mengembangkan Kampanye Prodina atau Produksi Indonesia dengan pesan pokok “Kupilih Karya Bangsaku”. Salah satu iklan yang paling populer yang dikembangkan Fortune adalah iklan bola yang digunakan oleh FIFA untuk kejuaraan Piala Dunia sepakbola, yang merupakan produk buatan Indonesia, sesuatu yang tidak diketahui kebanyakan orang Indonesia sendiri. Iklan bola dan materi-materi lainnya yang dikembangkan Fortune banyak membantu membangun apresiasi terhadap produk buatan Indonesia.