Di awal tahun 1998, dampak krisis ekonomi dan moneter sudah menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Masyarakat miskin mengalami kesulitan untuk menyekolahkan anaknya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memperkirakan bahwa sampai 7,5 juta anak usia sekolah dikhawatirkan tidak akan dapat melanjutkan pendidikannya alias menjadi drop-out atau tidak bisa masuk sekolah SD dalam tahun ajaran 1998-1999.

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakayat atau Menko Kesra, Prof. Dr. Haryono Suyono, memanggil tiga perusahaan periklanan, yaitu Fortune Indonesia, Hotline dan Matari untuk membantu mengatasi masalah pendidikan ini melalui suatu kampanye social marketing. Fortune diminta untuk memimpin Tim perusahaan periklanan untuk mengembangkan strategi komunikasi dan konsep kreatifnya. Juga disepakati bahwa Hotline akan menangani iklan layanan masyarakat, sementara Fortune menangani aspek komunikasi pendukung dan tatap muka, public relations serta pembangunan kemitraan dan penggerakan masyarakat. Pendanaan disediakan oleh Badan PBB untuk Anak-Anak atau UNICEF.

Fortune sebagai Ketua Tim ditugaskan untuk mengembangkan strategi dan konsep kreatifnya. Tim itu dipimpin langsung oleh Indra Abidin. ”Fortune mengembangkan strategi yang menempatkan anak sebagai pelaku utama kampanye dengan logo ’Aku Anak Sekolah’ dan slogan ’Ayo ke Sekolah’, kisah Ainur Rovic, Account Director Fortune, ”dengan tekanan bahwa setiap anak usia sekolah wajib disekolahkan orangtua dan orangtua harus mau berkorban untuk masa depan anaknya.” Berdasarkan konsep ini, Hotline memproduksi serangkaian iklan layanan masyarakat yang menampilkan kelompok sinetron TV “Si Doel Anak Sekolahan” yang waktu itu sangat digemari penonton.

Fortune membantu menggalang dukungan dari Presiden BJ Habibie (yang menggantikan Presiden Soeharto tahun itu) dan berbagai tokoh bangsa, seperti KH Abdurrachman Wahid atau Gus Dur, Megawati Soekarno dan selebriti seperti artis-artis terkenal Titiek Puspa dan Sherina dan tentu Rano Karno, bintang ’Si Doel’.

Kemitraan dibangun dengan Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI yang menggerakan seluruh guru sampai ke tingkat desa untuk mendukung program Aku Anak Sekolah itu. “Fortune mengembangkan paket informasi program Aku Anak Sekolah berupa buku pedoman, leaflet, poster, audio-cassette, dan materi komunikasi pendukung lainya yang disebarkan oleh PGRI ke seluruh jajarannya,“ tutur Rovic.

Fortune juga membantu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam memberdayakan Komite Sekolah yang didirikan pada tingkat propinsi, kabupaten/kota dan kecamatan sampai ke tingkat sekolah melalui penyelenggaraan serangkaian seminar dan lokakarya dimana Fortune membantu menyediakan paket informasi yang dibutuhkan.

Melalui Komite Sekolah ini serta dukungan PGRI, sekolah-sekolah di seluruh Indonesia diikut sertakan dan diberdayakan untuk mensukseskan program Aku Anak Sekolah ini. Sementara itu, untuk menggerakan masyarakat, Fortune membantu menggalang kerjasama dengan Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga atau PKK dan sejumlah LSM agama dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Berkat kerja keras dari Pemerintah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang didukung kampanye Aku Anak Sekolah, jumlah yang putus sekolah atau tidak masuk SD berhasil dikurangi dari perkiraan awal 7,5 juta menjadi 2,5 juta. Ini merupakan prestasi yang luar biasa di tengah krisis yang sangat dahsyat itu, sehingga mendapat penghargaan dari Bank Dunia. Luar biasa.