Iklan sudah lama dikenal di Indonesia. Iklan dalam arti sesungguhnya pertama kali muncul di surat kabar Bataviaasche Nouvelieso pada penerbitan bulan Agustus di tahun 1744, yang berisi informasi tentang perdagangan, pelelangan, dan pengumuman resmi pemerintah. Surat kabar yang pertama kali memuat iklan-iklan produk adalah Tjahaya Siang, yang terbit di Minahasa. Iklannya berupa iklan baris untuk produk obat-obatan tradisional yang dimuat pada tahun 1825. Surat kabar lain yang juga mulai memuat iklan adalah Bintang Timoer dan Advertentie Blaad yang terbit di Jakarta. Pada tahun 1870an, mulai beredar iklan brosur berisi promosi perusahaan komersial dan juga iklan display. Pada awal abad ke-20, perusahaan periklanan atau biro reklame, demikian istilah awalnya, mulai bermunculan. Meskipun tidak bertahan lama karena kesulitan ekonomi, biro reklame bangkit kembali pada tahun 1930-1942. Biro iklan besar adalah milik Belanda, sedangkan biro iklan menengah dan kecil biasanya milik warga Tionghoa dan pribumi. Iklan yang dikeluarkan semakin beragam, dari iklan pasta gigi dan batik ke iklan pencarian kerja dan pernikahan. Pada masa Perang Dunia ke II, iklan menjadi alat propaganda, dan sempat dimanfaatkan untuk tujuan sama oleh penjajah Jepang di Indonesia. Pasca-kemerdekaan Republik Indonesia, tampil iklan imbauan untuk menyumbang bagi kepentingan perjuangan, pertahanan kemerdekaan dan pembangunan sekolah.

Ketika FORU berdiri dengan nama Fortune Indonesia Advertising and Management Consultants di tahun 1970, industri periklanan di Indonesia masih terhitung baru. Kehadiran FORU kala itu turut membantu memperkenalkan sistem periklanan modern di Indonesia. Apalagi, jumlah perusahaan periklanan sesungguhnya dan bukan sekedar biro reklame yang memasang iklan barus atau spanduk, masih sedikit. Hadirnya FORU, bersama dengan Bhineka yang didirikan oleh M. Napis dan Intervista milik Nuradi, dapat dikatakan merintis perkembangan industri periklanan di Indonesia yang kemudian tumbuh dengan cepat. Peran Mochtar Lubis, seorang pejuang pers dan demokrasi yang juga merupakan pendiri FORU, tercatat pula dalam sejarah sebagai perintis industri periklanan di Indonesia. FORU pun turut berkontribusi sebagai pelopor dalam memperkenalkan iklan layanan masyarakat di Indonesia.