Kita memang menghadapi banyak sekali masalah dalam kehidupan atau pekerjaan, dan terasa tak akan pernah cukup waktu untuk menyelesaikannya. Masalah akan berdatangan terus, dan akhirnya kita sering baru tersadar bahwa banyak masalah ternyata ditunda penyelesaiannya atau hanya diselesaikan sebagian sehingga tidak tuntas. Dalam menghadapi kepungan masalah ini, banyak di antara kita yang tidak lagi peduli untuk menemukan inti permasalahan, tetapi sekedar menangani gejala yang timbul. Apakah anda juga mengalami hal ini?

Banyak orang yang tidak merasa bahwa penyelesaian masalah adalah tanggung jawabnya. Ada yang menunggu atasannya, atau pasangannya, atau teman kerjanya. Apalagi bila kita menghadapi masalah yang lebih kompleks, seperti politik kantor, masalah-masalah kinerja, menurunnya penjualan, budget yang dipangkas, dan berbagai macam situasi yang membuat orang tidak produktif. Jangankan melihat masalah sebagai sebuah kesempatan, bahkan mengambil waktu untuk sedikit mundur dan melihat masalahnya dari kejauhan saja pun kita tidak sempat.

Taktis menghadapi dunia yang penuh dilemma

Bila kita menyadari bahwa dunia penuh masalah yang menuntut kecepatan, pemahaman dan analisa, saat sekarang kita seolah berhadapan dengan situasi yang penuh dilemma. Sejak usia muda, generasi milenial pun sudah harus mengasah common sense, kecermatan, kecepatan dan kesabarannya untuk menghadapi ketidakpastian.

Kita perlu mempunyai taktik untuk mampu beradaptasi dengan kenyataan ini. Kita perlu memiliki vision, yaitu kapasitas untuk melihat masa depan dan selalu meramal sendiri, apa yang kita harapkan di masa depan. Understanding, yaitu kemampuan observasi, melihat, mendengar dan menerjemahkan situasi. Clarity yaitu kemampuan mengartikan chaos dengan lebih gamblang. Lalu Agility yaitu kemampuan menghubungkan pengetahuan, rasa saling percaya, dan bergerak cepat sesuai tuntutan yang dinamis.

Selain itu, risiko pun sudah harus menjadi teman akrab kita, selalu diperhitungkan, tetapi kemudian berwujud dalam bentuk tindakan nyata. Hal ini menuntut kita untuk memiliki self awareness tingkat tinggi, dan proses refleksi setiap saat, dengan memanfaatkan kegagalan sebagai pembelajaran intensif. Kita perlu menjadi pemikir kritis yang selalu siap bounce back dan terbiasa dengan turbulensi keadaan ini. Gaya problem solving yang baru ini diperlukan bila kita memang ingin berkembang terus.

“Each experience teaches us all new things. Embrace problem solving and the many unseen treasures it represents.”

Sumber:
Eileen Rachman & Emilia Jakob (2017)